Ini bukan dari sekedar cerita rakyat, tapi juga bukan sekedar dongeng belaka.
Tetapi, ini adalah cerita yang merupakan tonggak sejarahnya kelas saya, Access Class (heh?)
Kelas gue, kelas XI IPA I, kelas gue merupakan kelas yang beken dikalangannya (ck, apaan sih?)..
Nah, kebetulan, di kelas gue, lokasinya strategis sekali, sehingga bisa dijadikan tempat penyinggahan banyak negara (ceh ileh.. -,-).,. maksud gue, banyak anak sekolahan gue yang lewat-lewat di depan kelas gue.. karena emang kelasnya indah banget, jadi banyak yang ingin melihat panoramanya.. (halah, maksud gue, kelasnya di dekat pintu gerbang yang megah dan tinggi menjulang)
Jadi, karena ke-strategis-annya itu, ada adik kelas kami yang kelasnya kebetulan gelap, dipojok, dan terkucil akan dipindahkan kelasnya ke kelas kami. yah, terpaksa deh kami digusur ke lantai atas yang susah banget buat diraih dan dicapai kelasnya dari mana saja. jauuuuuh banget.. mana kecil lagi.. ya udah deh.. demi adik2.. (hahaha)
Tetapi, proses perpindahannya masih dimulai beberapa hari lagi. sehingga, tinggallah kami dikelas ini, memungut, merapikan dan membungkus satu demi satu peralatan kami yang akan dipindahkan.
hari pertama dimulai dengan pindahnya AC dan tikar kami.
pindahnya AC itu tugasnya abang-abang tukang AC, tapi, menggulung tikar itu tugasnya kami..
Beginilah awal dari cerita singkat menakjubkan itu:
Kami bakal diuji dengan selembar kertas yang bakal melihat sampai mana kemampuan kami dalam berbahasa di daerah kami tercinta ini, atau kalian bisa menyebutnya dengan ulangan bahasa indonesia.
Ulangan tersebut di pimpin oleh mam. Darmawan.
Tetapi, sungguh aneh, kali ini, mam tidak datang seorang diri ke kelas kami yang begitu khusyu' sebelumnya, tetapi berdua dengan seorang mam yang biasa kami sebut dengan mam. Irna.
Keanehan tersebut terjawab setelah kami diberi pengarahan tentang pindahnya kami kekelas baru yang masih kosong dan belum berpenghuni itu. pertanyaan demi pertanyaan kami lontarkan, dan semuanya berbuah jawaban yang membuat kami dapat membungkus kata-kata tersebut menjadi sebuah kata. KAMI AKAN PINDAH.
hati ini, sungguh berat untuk meninggalkan kelas ini, ditambah lagi kata-kata mam sambil menggelengkan kepala dan telunjuknya, yaitu "Mari gulung tikar", dengan senyuman maut yang menggoda kami untuk melakukan apa yang dikehendakinya.
huhu.. sedihnya. akhirnya dengan senyum yang tersungging di setiap bibir, kami melanjutkan pelajaran demi pelajaran dengan kaki berhadapan langsung dengan lantai. tak disangka, lantai kelas sangat dingin.. huee
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar